er

Kamis, 22 Mei 2014

Agenda Mendesak: Menolak Lupa Sejarah


            Jangan sekali- kali melupakan sejarah, itulah kata yang sering didengungkan oleh founding father republik ini. Mengapa dilarang melupakan sejarah? Bagaimana seandainya ketika lupa akan sejarah? Adalah salah satu hal pertama untuk menyelidiki bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, dan kegunanaanya mengkaji suatu peristiwa ketika cara berfikirnya pragmatis?
        Setiap sesuatu pasti punya cerita, entah itu cerita pribadi, bangsa ataupun organisasi, sejarah sebenarnya mengajak menyusuri ruang-ruang lampau, menyentuh nilai-nilai dan memetiknya sebagai landasan dalam berjuang, ketika memang demikian, tentu sejarah adalah perlu dikaji dan dipahami secara bersama jika menyangkut orang banyak. KPMBD adalah organisasi keterpelajaran dengan nafas kedaerahanya tentu juga memiliki cerita panjang yang perlu diselidiki dan dikaji bersama demi mendapatkan nilai-nilai didalamnya. Perjalanan KPMDB dalam menempuh hampir setengah abad pasti syarat dengan moment-moment penting dan tragedi-tragedi yang terjadi, namun sumber-sumber untuk membaca dan mengantarkan pada imajinasi tentang perjalanan kpmdb sampai sekarang ini sangatlah minim bahkan hampir tidak ada, terlalu jauh ketika membicarakan sejarah kpmdb secara menyeluruh karena kpmdb memiliki banyak wilayah seperti jogja, solo, semarang, purwokerto, pekalongan, bregas, cirebon, malang, bandung, jakarta, dan bogor pastinya masing-masing wilayah memilikli ciri khas dan sejarah permulaan sampai sekarang yang berbeda dan unik.
            Teringat dengan apa yang pernah di usulkan oleh alumni  dalam forum diskusi KPMDB tengah malam pada momentum makrab kpmdb wilayah surakarta 2014 di tawangmangu, bahwa kpmdb perlu mengumpulkan cerita-cerita dari awal berdiri sampai KPMDB Wilayah Surakarta sekarang. Melihat fenomena KPMDB sekarang memang sangat perlu untuk kembali pada jalur awal mula organisasi ini berdiri, dan menolak lupa akan sejaranya, pernah dengar suatu pepatah bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menngingat dan menghargai sejarahnya. Salah satu problema untuk membentang kaitkan benang panjang dari KPMDB dulu hingga saekarang adalah tidak adanya bukti tertulis mengenai sejarah KPMDB sekarang. Langkah awal untuk mengembalikan KPMDB pada identitasnya sebagai organisasi pergerakan keterpelajaran yang membawa nafas kedaerahan adalah sejarah.
          Setiap periode KPMDB pastilah punya warnanya sendiri karena orang-orang yang berada didalamnya selalu berubah dan merupakan konsekuensi logis dari organisasi agar tetatp eksis dan memberi warna dalam perjalanannya. Akan tetapi untuk menolak lupa sejarah dan tetap pada subbordinasi keluarga besar KPMDB Wilayah Surakarta belum cukup alat untuk menenun setiap periode yang berlangsung, alternatif dari pada itu adalah menggalakan penulisan sejarah setiap periodenya. Karena apa? Sangat Tidak mungkin dalam suatu periode tidak mendapatkan suatu permasalahan atau tantangan, sangat tidak mungkin dalam suatu periode tanpa adanya dinamisasi didalamnya. Gagasan penulisan sejarah KPMDB Wilayah Surakarta adalah kebutuhan organisasi, mau tidak mau, suka tidak suka harus dipenuhi, karena KPMDB bukan untuk tahun sekarang atau kepengurusan periode ini saja. KPMDB akan selalu ada dan mewarnai wilayah surakarta.
             Gemilangnya organisasi, peristiwa apa saja yang terjadi dan permasalahan apa saja yang dihadapi dan orientasi KPMDB dalam kurun waktu tertentu  sangat perlu untuk diketahui secara turun temurun, manfaaat dari penulisan sejarah dan sejarah itu sendiri adalah mengetahui bagaimana pola laku, pola pikir, dan pola tingkah pada suatu masa dalam mengambil sikap dan merupakan pengikat akan satu kesatuan yang akan terus ada tanpa keterputusan.
           Sebagaimana pramoedya ananta toer bilang bahwa Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Mari kita bersama melawan lupa sejarah. reforma, menulis sejarah KPMDB Wilayah Surajkarta adalah agenda mendesak yang perlu dilakukan oleh orang-orang yang pernah hidup dan mencitai KPMDB Wilayah Surakarta agar KPMDB tetap ada dimasyarakat (kampus) dan didalam sejarah.

                                                                     Oleh: Hamdan Wijaya (kader KPMDB Wilayah Surakarta)

Kamis, 15 Mei 2014

Pendidikan dan Kepribadian


Para pendiri bangsa menyadari benar arti pentingnya pendidikan bagi kehormatan dan kemulian manusia dan bangsa. Pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12-nya itu, menekankan tiga hal penting dalam kehidupan manusia yaitu ilmu, akal dan adab. “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.” tulis Raja Ali Haji.
 
Krisis multidimensional yang mendera Indonesia saat ini bukanlah sembarang krisis yang bisa dihadapi secara tambal sulam. Krisis ini begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya, menyerupai zaman kalabendu yang penuh prahara, pertikaian, kedunguan, kehancuran tata nilai dan keteladanan. krisis yang kita hadapi mengisyaratkan bahwa untuk memulihkannya kita memerlukan lebih dari sekadar politics as usual. Kita memerlukan visi politik baru. Peribahasa mengatakan, ”where there is no vision, the people perish.” Visi ini harus mempertimbangkan kenyataan bahwa krisis nasional ini berakar jauh pada penyakit spirit dan moralitas yang melanda jiwa bangsa. Suatu usaha “national healing” perlu dilakukan dengan membawa nilai-nilai spiritual dan etis ke dalam wacana publik. Dengan kata lain, kita memerlukan penguatan etika politik dan pertanggungjawaban moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Penguatan etika dalam kehidupan publik ini pada gilirannya harus berakar kuat pada proses persemaian dan pembudayaan dalam sistem pendidikan. Proses pendidikan sejak dini, baik secara formal, non-formal maupun informal, menjadi tumpuan untuk melahirkan manusia baru Indonesia dengan karakter yang kuat. Karakter yang mencerminkan kualitas kepribadian dan merit. Yakni kepribadian yang terkait dengan kapasitas moral seseorang, seperti keterpercayaan dan kejujuran; serta kekhasan kualitas seseorang yang membedakan dirinya dari orang lain, yang membuatnya berkemampuan menghadapi kesulitan, ketidakenakan dan kegawatan (aktualitas potensi diri).

Setahun setelah Pemilihan Umum 1955 yang tak menentu, Presiden Soekarno dalam pidato peringatan hari kemerdekaan menyatakan, “Aku belum kehilangan kepercayaan kepada bangsaku sendiri!” Selanjutnya dijelaskannya bahwa bangsa Indonesia telah melampaui dua taraf perjuangan. “Taraf physical revolution ” (1945-1949) dan “taraf survival” (1950-1955). Lantas ia tandaskan, “Sekarang kita berada pada taraf _investment_, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya: investment of human skill, material investment, dan mental investment.”

Dalam pandangan Soekarno, investasi manusia dan material amat penting. Akan tetapi, yang paling penting adalah investasi mental. Investasi pengetahuan dan material tidak bisa menjadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari investasi mental. Tanpa kekayaan mental, upaya-upaya pemupukan modal manusia dan material hanya akan melanggengkan perbudakan. Dikatakannya, “Lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini daripada menjual serambut pun daripada kemerdekaan kita ini untuk dolar, untuk rubel.” Ditambahkannya pula, “Mental kita harus mengangkat diri kita di atas kekecilan jiwa, yang membuat kita suka geger dan eker-ekeran mempertentangkan urusan tetek bengek yang tidak penting.”

Itulah sebabnya, mengapa Bung Karno sangat menekankan program “Nation and Character Building”. Dalam pandangannya, Indonesia adalah bangsa besar, namun seringkali memberi nilai terlalu rendah pada bangsanya alias bermental kecil; masih belum terbebas dari mentalitas kaum terjajah yang sering mengidap perasaan rendah diri (minderwaardigheidscomplex). Bung Karno menyadari bahwa sebagai akibat penjajahan dan feodalisme selama ratusan tahun, terbentuklah karakter rakyat yang disebut “abdikrat,” meminjam istilah dari Verhaar dalam bukunya Identitas Manusia. Akibatnya, terbentuklah mentalitas pecundang dengan penuh perasaan tak berdaya dan tidak memiliki kepercayaan diri atau self-confidence. Memasuki alam kemerdekaan, Bung Karno menyerukan agar watak demikian harus dikikis habis. Rakyat harus berjiwa merdeka, berani berkata “ini dadaku, mana dadamu”; berani mandiri dan menghargai diri sendiri.

Dalam perkembangannya, rezim pembangunan terlalu memprioritaskan investasi material (material investment), yang bersifat kuantitatif; kurang memberikan perhatian pada investasi mental. Pelajaran moral Pancasila memang digalakan, namun cenderung bias kognitif lewat butir-butir hapalan yang menjemukan, kehilangan impresi yang bisa menggugah nurani. Kita memerlukan pendidikan karakter secara holistik dan efektif. Pendidikan karakter menggarap pelbagai aspek dari pendidikan moral, pendidikan kewargaan, dan pengembangan karakter. Setiap komponen memberikan perbedaan tekanan tentang apa yang penting dan dan apa yang semestinya diajarkan.
 
Pendidikan moral menitikberatkan dimensi etis dari individu dan masyarakat serta memeriksa bagaimana standar-standar kebenaran dan kesalahan dikembangkan. Agama dan filsafat menyediakan fondasi untuk diskusi-diskusi moral dan pertimbangan-pertimbangan etis tentang bagaimana restorasi nilai-nilai kebajikan berlangsung di lingkungan sekolah.

Pendidikan kewargaan (civic education) memberikan kesempatan bagi keterlibatan aktif dalam proses-proses demokratis yang berlangsung di sekolah dan komunitas. Basis pengetahuannya mencakup prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi yang dapat digunakan oleh siswa untuk memeriksa hak-hak sipil dan tanggung jawab mereka serta untuk berpartisipasi dalam komunitas yang majemuk demi kebajikan bersama. Watak sipil, karakteristik warga negara yang baik dalam sistem demokrasi diamati dan ditekankan baik dalam pembelajaran di kelas maupun dalam aktivitas ekstra kurikuler.

Pengembangan karakter adalah suatu pendekatan holistik yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil dari kehidupan siswa. Sikap dan nilai dasar dari masyarakat diidentifikasi dan diteguhkan di sekolah dan komunitas. Pendidikan bersifat sarat nilai, karena masyarakat menentukan apa-apa yang akan dan tidak akan diteladani. Moral ditangkap (caught) lewat keteladanan dan pengalaman konkret bukan diajarkan (taught) sekadar hapalan.

Diambil dari REPUBLIKA.CO.ID,Rabu, 14 Mei 2014, Oleh: Yudi Latif pada Rabu, 14 Mei 2014,pukul 23:41.

Pendidikan dan Kesetaraan



Akses pendidikan serta keberadaan atau ketiadaan bentuk-bentuk pendidikan tertentu dalam sebuah masyarakat mencerminkan bukan saja skemata bagi pembedaan kelas dan prinsip-prinsip fundamental dari kemapanan tertib sosial, namun juga menjadi katalis bagi perjuangan kuasa yang kompetitif. Konsepsi pendidikan sebagai sebuah medan gaya dari relasi-relasi kuasa yang penuh konflik ditunjukkan dengan baik oleh situasi pendidikan selama kekuasaan kolonial Belanda. Di bawah kekuasaan itu, pendidikan semakin meneguhkan perbedaan status. Dengan begitu, pendidikan menjadi faktor yang mempersatukan orang-orang dalam aneka kelompok sekaligus yang menjadi sekat pemisah antara kelompok-kelompok itu.
 
Bagi watak dasar dari pandangan dunia kolonial, usaha pendidikan ini mengandung sebuah dilema. Di satu sisi, usaha pendidikan dipandang penting untuk mendukung ekonomi-politik industrialisasi dan birokrasi kolonial. Di sisi lain, pendidikan mengandung ancaman potensial bagi ‘kepercayaan mistis’ mengenai superioritas kolonial. Dilema semacam itu dipecahkan dengan membangun pendidikan yang didasarkan pada prinsip segregasi etnik dan hirarki status. Dengan dasar segregasi dan pembedaan status ini, sifat dari kebijakan-kebijakan awal dalam pendidikan di Hindia adalah anti-asimilasi, elitis dan dualistik.

Perjuangan untuk menjebol diskiminasi dalam dunia pendidikan ini pertama-tama diperjuangkan oleh kaum guru. Sampai akhir abad ke-19, peran para guru dalam mempromosikan wacana kemadjoean sangatlah menonjol, setidaknya karena dua alasan. Pertama, profesi guru hingga masa ini menghimpun porsi terbesar dari orang-orang pribumi berpendidikan terbaik, dan sebagai para pendidik, mereka merupakan pihak yang paling merasa terpanggil untuk mengemban misi suci untuk mencerahkan saudara-saudara sebangsanya. Kedua, fakta bahwa profesi guru kurang dihargai jika dibandingkan dengan posisi-posisi administratif mungkin telah menstimulasi mereka untuk menjadi artikulator dari konsep kemadjoean dalam rangka menjadikannya sebagai tolok ukur baru dalam menentukan privilese sosial. Peran yang menonjol dari para guru ini menunjukkan bahwa ‘intelektual organik’ dari bibit inteligensia pada akhir abad ke-19 ini terutama berasal dari lingkaran-lingkaran para guru.

Para guru melancarkan tuntutan dan kritik mereka terutama lewat majalah-majalah pendidikan, seperti _Soeloeh Pengadjar_ di Probolinggo (yang pertama kali terbit pada tahun 1887) dan Taman Pengadjar di Semarang (terbit sekitar tahun 1899-1914). Majalah-majalah itu memainkan peran yang signifikan dalam mengartikulasikan aspirasi-aspirasi guru pribumi. bagi penghapusan diskriminasi dalam pendidikan. Seiring dengan itu, persis menjelang akhir abad ke-19, perkumpulan guru paling berpengaruh terbentuk, yang diberi nama klub Mufakat Guru. Cabang-cabang dari klub ini bermunculan di berbagai kabupaten dan kawedanan di Jawa. Tujuan dari Mufakat Guru pada pokoknya ialah ‘untuk membuka jalan bagi para guru untuk bersatu dan berdiskusi mengenai permasalahan dan isu kemadjoean.

Tuntutan utama dalam proyek emansipasi kaum guru ini berkisar pada upaya perjuangan kata/bahasa. Yakni peluasan akses terhadap kepustakaan serta peningkatan pengajaran bahasa Belanda di sekolah-sekolah pendidikan guru pribumi dan pengajaran bahasa Belanda bagi semua anak pribumi.

Dengan trajektori kemadjoean yang telah dirintis kaum guru, sedini awal dekade pertama abad ke-20, terjadilah fase formatif ruang publik modern, sebagai ruang memperjuangkan kesetaraan sosial. Menulis pada edisi perdana (1902) majalah pengobar ‘kemajuan’, Bintang Hindia, Abdul Rivai memperkenalkan istilah ‘bangsawan pikiran’. Dikatakan, “Tak ada gunanya lagi membicarakan ‘bangsawan usul’, sebab kehadirannya merupakan takdir. Jika nenek-moyang kita keturunan bangsawan, maka kitapun disebut bangsawan, meskipun pengetahuan dan capaitan kita bagaikan katak dalam tempurung. Saat ini, pengetahuan dan pencapaianlah yang menentukan kehormatan seseorang. Situasi inilah yang melahirkan ‘bangsawan pikiran’.”

Dalam tanda dan peta-jalan seperti inilah generasi Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Natsir dibesarkan. Semua tokoh-tokoh ini lahir pada dekade pertama abad ke-20, dan semuanya tak bisa dikatakan sebagai anak-anak priyayi tinggi. Sukarno hanyalah anak priyayi-rendahan yang mujur bisa masuk ELS karena pertolongan seorang guru Belanda; Hatta adalah anak ulama-pedagang, yang beruntung bisa diterima di ELS karena kekayaan keluarganya; Sjahrir berlatar sedikit lebih baik, ayahnya seorang jaksa pribumi sehingga diterima di ELS; Keluarga Natsir lebih rendahan lagi, ayahnya hanyalah seorang jurutulis kontelir, yang membuatnya hanya diterima di HIS. Alhasil, mereka bisa memasuki pendidikan sistem Eropa, berkat kegigihan generasi sebelumnya dalam menciptakan tanda; tanda yang membuat Belanda terpaksa mengendurkan persyaratan keturunan. Sejarah lantas mencatat, berkat akses terhadap pendidikan modern-lah anak-anak dari kalangan priyayi rendahan ini bisa melesat menjadi pemimpin pergerakan modern yang berhasil mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaannya.

Kemerdekaan Indonesia dirayakan dengan semangat kebebasan, kesetaraan, dan persaudaran. Berakhirnya kolonialisme menim­bulkan harapan kuat di kalangan rakyat bahwa batasan-batasan dan diskriminasi-diskriminasi sosial yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial akan sirna.  Menyadari bahwa kualifikasi pendidikan merupakan sarana kuat untuk mengangkat status sosial selama periode kolonial, muncullah kesadaran politik yang kuat pada orang-orang dari kelompok-kelompok status yang berbeda untuk menghapuskan regulasi-regulasi yang membatasi dan memperluas pilihan-pilihan masyarakat dalam bidang pendidikan. Komitmen politik untuk memenuhi hasrat semacam itu dimaktubkan dalam pasal 31 UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.”

Oleh karena itu, takala kita melihat ada tanda-tanda bahwa dunia pendidikan mengarah pada pembelahan dan diskriminasi sosial baru atas dasar kekuatan daya beli, kita harus berjuang mengatasi kuman-kuman degenarasi ini, dan mengembalikan pendidikan ke mandat konsitusi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yudi Latif Rabu, 07 Mei 2014, 06:00 WIB pada Rabu, 14 Mei 2014,pukul 23:46.

Kamis, 10 April 2014

CINTA DAN TRANSFORMASI

“For all things are united, themselves with parts of themselves – the beaming sun and earth and sky and sea – whatever things are friendly but have separated in mortal things. And so, in the same way, whatever things are the more adapted for mixing, these are loved by each other and made alike by Aphrodite” Empedocles[1]
Oleh: Saraswati Dewi

Cinta mudah diterjemaahkan kedalam puisi, lagu dan tarian, karena ranah cinta dan irasionalitas jauh lebih mudah diekspresikan, tetapi bisakah kita mendiskursuskan cinta? Ganjil memang, ditengah asumsi bahwa cinta itu tidak logis, sementara ada hasrat manusia untuk memahami secara rasional apa cinta itu. Hasrat ini telah menjadi obsesi berbagai filosof, sebut saja Plato, Empedokles, Kierkegaard, Fromm, Stendhal, hingga filosof India Vatsyayana. Mengapa penting bagi manusia untuk bisa memahami cinta secara diskursif? Bukankah cinta sama indah dan memikatnya di dalam irasionalitas puisi, lukisan, serta simfoni? Kecenderungan manusia untuk melabelkan, mendefinisikan lalu menguraikan peristiwa adalah dorongan utama untuk menaklukan secara komprehensif apa cinta itu. Cinta sarat anomali, tetapi bagi para filosof teka-teki itulah yang mempesona tentang cinta.

Amor Platonicus

Dalam karyanya Symposium, Plato meramu suatu konsep ideal tentang cinta. Melalui pembicaraan 7 tokoh, Phaedrus, Pausanias, Eryximachus, Aristophanes, Agathon, Socrates, dan Alcibiades, mereka masing-masing saling memaparkan pendapat mereka tentang cinta. Sambil menikmati anggur Phaedrus mengawali pidatonya memuja Dewa Eros, “Love is a great god, wonderful in many ways to gods and men, and most marvelous of all is the way he came into being.”[2] Phaedrus menjelaskan bagaimana pada awalnya adalah kekacauan (chaos) lalu kemudian cinta terlahir lalu terbentuklah keteraturan. Filsafat cinta dari Plato memang sarat dengan dihubungkannya cinta dan bagaimana alam semesta terbentuk. Serupa dengan kutipan dari Empedocles, yang menyatakan bahwa alam tercipta karena elemen primordial cinta melekatkan segala-galanya. Pandangan yang romantis memang, tetapi dibalik romantisisme itu, secara mendasar apa yang ingin disampaikan Plato dan Empedocles adalah ada suatu energi yang memungkin segala interaksi dan relasi yang sempurna di dalam alam semesta ini. Bagaimana alam bekerja dalam dinamika serta mekanisme yang tidak saja harmonis tetapi juga indah, bagi para filosof ini berkaitan dengan keberadaan elemen utama yakni cinta.

Plato melalui pidato Pausanias lebih lanjut lagi memaparkan bagaimana cinta dapat dimengerti melalui dua perspektif, Common Aphrodite dan Heavenly Aphrodite[3]. Common Aphrodite adalah cinta yang erotis dan vulgar, pemuasan tubuh serta kepemilikan menjadi tujuan utamanya. Cinta semacam ini menurut Plato adalah cinta yang hedonistik, yang mencari momentum kepuasan. Sementara itu Heavenly Aphrodite mengejar wujud cinta yang berbeda, tidak ada penaklukan disini. Cinta tertinggi dipandang sebagai bentuk persahabatan dua hati, yang tidak ada dorongan nafsu ragawi. Dimana dua orang ini saling menghormati, menikmati pertemanan secara intelektual. Bagi Plato cinta semacam inilah cinta yang terhormat, yang tidak mencari kepuasaan sesaat, tetapi mengejar kebijaksanaan di dalam cinta. Beralih dari Pausanias, pidato Eryximachus menjelaskan pula dua tipe dari cinta, dimana tubuh manusia berada di persimpangan dua kecenderungan ini, “The point is that our very bodies manifest the two species of love.”[4] Tubuh menurut Plato merespon secara berbeda peristiwa cinta, ada yang merespon secara buruk sehingga cinta berubah menjadi racun, merusak tubuh dan menyebabkan kematian, tetapi adapula yang bentuk cinta yang bekerja sebagai obat dan menyegarkan tubuh serta pemikiran. Analogi yang diberikan dalam pidato Eryximachus penting dalam menjelaskan teori cinta Platonian, bahwa setiap manusia memiliki reaksi serta ekspektasi yang berbeda-beda tentang cinta. Tetapi apapun reaksi itu, konsep utamanya adalah cinta merupakan kekuatan yang mampu merubah sesuatu, mampu mentransformasi sesuatu.

Dalam pidato Aristophanes, Plato memperkenalkan teorinya yang terkenal yakni mitos ‘belahan jiwa’. Dikisahkan oleh Aristophanes bahwa pada awalnya manusia diciptakan dewa berpasang-pasangan, saling menempel satu dengan yang lainnya. Meski manusia lemah secara tenaga, tetapi mereka memiliki ambisi yang kuat untuk melawan dewa. Khawatir dengan pemberontakan manusia, Zeus menyambar manusia dengan petir-petirnya, menghukum mereka dengan cara memisahkan mereka dengan pasangannya. “In that condition they would die from hunger and general idleness, because they would not do anything apart from each other. Whenever one of the halves died and one was left, the one that was left still sought another and wove itself together with that, —either way they kept on dying.”[5] Inti dari mitos ini, bagi Plato kehidupan manusia dapat diandaikan seperti manusia yang kehilangan pasangannya. Sepanjang hidupnya ia merasakan kehampaan yang sulit untuk diisi. Pencarian terhadap cinta sejati adalah pencarian terhadap belahan jiwa tersebut, “Love is born into every human being; it calls back the halves of our original nature together; it tries to make one out of two and heal the wound of human nature.”[6] Cinta bagi Plato adalah substansi yang dapat memenuhi kekosongan itu, ia mempersatukan realitas serta relasi yang nampaknya sedemikian kacau dan acak, cinta juga memulihkan jiwa manusia.

Pada pidato Agathon, Plato menjelaskan bahwa kita bisa melihat gejala-gejala cinta. Gejala-gejala itu adalah bukti riil bahwa cinta itu adalah kekuasaan. Seseorang yang menyebabkan jatuh cinta sesungguhnya ia memiliki kekuasaan. Ia yang memberi cinta yang tulus juga memiliki kekuataan dan kekuasaan. Selain itu dalam pidato Agathon, Plato menegaskan lagi bahwa cinta itu tidak saja indah dan menyenangkan tetapi ia juga menginginkan kebaikan dan keadilan. Bagi Agathon cinta adalah serum yang dibutuhkan dalam dunia yang penuh dengan kekerasan. Cinta melembutkan jiwa manusia, ia membuat manusia menjadi beradab, “Love moves us to mildness, removes from us wildness. Giver of kindess never of meaness.”[7] Paparan dari Agathon disetujui oleh pembicara selanjutnya, yakni Socrates, ia menjelaskan bahwa ketika seseorang sedang mencintai sesungguhnya ia menginginkan kebaikan di dalam cinta tersebut. Itu mengapa menurut tokoh Socrates, cinta dan kebaikan sepatutnya tidak terpisahkan, secara ekstremnya, inilah cinta yang sesungguhnya, bukan jenis cinta yang lainnya.

Perdebatan panjang yang diuraikan oleh Plato menunjukan properti dari cinta, begitu juga motif dari kegiatan mencintai tersebut. Konsep cinta dari Plato kongruen dengan dualismenya, dari segi epistemologis ia selalu mengatakan bahwa ada kebenaran doxatic dan kebenaran epistemic, begitu juga dalam metafisikanya, bahwa realitas sesungguhnya adalah dunia idea bukan dunia fisikal dalam keseharian. Berkaitan dengan filsafat cinta Plato, ia juga melihat bahwa ada hirarki ketika memahami cinta. Cinta yang destruktif, ingin menguasai, menyiksa bagi Plato hanyalah bayangan dari cinta, bukan cinta yang sejati, cinta sejati baginya adalah cinta yang baik dan adil. Mengapa manusia mencintai? Menurut Socrates karena cinta adalah ‘nature’ dari surga, ia selalu ingin melampaui mortalitas ketubuhannya, ia ingin mencapai kesempurnaan itu.

Dari Otak Turun Ke Hati

Cinta memang lahir dari banyak tafsir mistifikasi. Tidak terhitung jumlah mitos-mitos dan simbol-simbol tentang cinta yang melibatkan tragedi dan kesengsaraan. Setiap orang menginginkan kisah dongeng dimana cinta menumpas keburukan dan pasangan yang saling mencintai tersebut hidup sejahtera selamanya. Cinta dianggap sebagai suatu panacea. Suatu ramuan yang dapat membuat segala keburukan dan kebingungan sirna dalam sekejap. Nyatanya cinta tidak bekerja seperti itu. Cinta di dalam dunia riil membutuhkan proses, bahkan Russell mengatakan cinta paling tidak harus memiliki stabilitas.

Kata stabilitas tidak selalu kongruen dengan konsepsi tentang cinta, apalagi cinta selalu diasosiasikan dengan gairah dan petualangan. Tetapi banyak filosof memilih cinta yang stabil, dengan kaitannya dalam menghindari kesengsaraan. Kita ambil contoh Erich Fromm, ia mengkritisir terma ‘jatuh cinta’, mengapa manusia harus jatuh cinta? Ia menegaskan kata ‘jatuh’ atau ‘falling’, haruskah manusia jatuh? Seolah-olah pengalaman mencintai harus mengalami insiden yang carut marut dimana kita selalu terperosok? “Love is an activity, not a passive affect; it is a ‘standing in’, not a ‘falling for’.”[8] Erich Fromm melakukan analisa psikologis tentang cinta, bahwa cinta yang seringkali menyebabkan kesengsaraan bagi manusia adalah cinta yang berakar pada mitos. Mitos apa? Kita ambil contoh mitos yang digunakan oleh Plato dalam Symposium, Plato menjelaskan bagaimana manusia ketika zaman awal penciptaanya sesungguhnya adalah sepasang manusia yang menjadi satu. Terpisahnya dengan pasangan jiwa itulah yang menyebabkan kita hidup dalam kegelisahan. Atas dasar mitos inilah maka manusia selalu meyakini bahwa untuk melengkapi kehidupannya ia harus mencari pasangan yang sudah ditakdirkan bersamanya. Sungguh berat misi untuk mencintai semacam ini, Fromm akan mendebat, “Another form of Pseudo Love is what we may be called ‘sentimental love’. Its essence lies in the fact that love is experienced only in phantasy and not in the here and now relationship to another person who is real.”[9]

Cinta Pseudo, Fromm menjabarkan, adalah suatu kondisi dimana manusia hidup dalam atmosfir cinta dalam fantasi. Kita mencari sentimentalitas dan drama dalam cinta, seperti apa yang telah dibentuk dan diajarkan kepada kita secara kultural, sementara kita melalaikan apa yang terjadi secara kekinian di dalam hidup kita. Manusia ingin cinta yang fantastis, disinilah letak problemnya, bagi Fromm cinta adalah relasi yang lahir dari emosi manusia yang menginginkan keintiman. Manusia sering memfantasikan bentuk dan objek cinta mereka, fantasi terhadap forma-forma inilah yang melalaikan pesan kesederhanaan dari cinta. Cinta adalah tentang pengalaman, kompatibilitas dan relasi kepercayaan. Fromm akan menolak segala bentuk romantisme dan mistifikasi tentang cinta.

Antropolog dan juga filosof Helen Fisher banyak menyempurnakan pendekatan psikologi Fromm berkenaan dengan kapabilitas manusia untuk mencintai. Helen Fisher adalah salah satu ilmuwan yang menjustifikasi bahwa cinta bukanlah suatu bentuk emosi seperti kemampuan emotif kita untuk merasakan senang, sedih, marah dan yang lainnya, Fisher meyakini kemampuan kita untuk mencintai adalah suatu ‘drive’ atau dorongan. Hal ini cukup mencengangkan karena ‘drive’ atau dorongan dapat dimengerti sebagai suatu kondisi dasar manusia seperti halnya dorongan untuk makan dan minum.
Fokus utama dari Fisher adalah meneliti aktivitas dari cinta, baik segi konstruktif dari cinta, hingga kekuatan destruktifnya. Fisher menjelaskan secara Darwinian, bahwa otak kita telah berevolusi menjadi tiga sistem besar, yang pertama adalah bagian otak yang berhubungan dengan dorongan seksual, bagian kedua adalah otak yang berhubungan dengan infatuasi, fantasi atau kemabukan, serta yang ketiga adalah yang berkaitan dengan kemampuan kita untuk berada dalam suatu ikatan yang menyangkut toleransi, dan rasa aman. Tiga sistem otak ini dikatakan oleh Fisher tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi juga beberapa hewan mamalia, itulah mengapa ia menyebutkan sebagai tiga sistem besar dari otak mamalia.

Melalui pemahaman dari tiga sistem otak inilah maka sesungguhnya kita dapat memahami kecenderungan aktivitas cinta dari seseorang. Mereka yang menganggap seks sebagai cinta maka akan lebih sering menggunakan bagian otak pertama, yang dikatakan oleh Fisher sebagai bagian otak yang memproduksi testosteron. Sementara mereka yang menganggap cinta adalah komitmen dan loyalitas maka akan lebih sering menggunakan sistem otak bagian ketiga yaitu bagian otak yang memproduksi endorphin. Sistem otak bagian kedua adalah yang paling unik dikatakan oleh Fisher, karena muara segala pembahasan kita tentang cinta yang kompulsif, obsesif, agresif, dan penuh dengan infatuasi dapat dijelaskan melalui aktifitas sistem otak ini. Otak dibagian ini dipahami Fisher sebagai otak yang memproduksi dopamine. Apa itu dopamine? “Dopamine is commonly associated with the pleasure system of the brain, providing feelings of enjoyment and reinforcement to motivate a person proactively to perform certain activities. Dopamine is released (particularly in areas such as the nucleus accumbens and ventral tegmental area) by naturally rewarding experiences such as food, sex, drugs and neutral stimuli that become associated with them.”[10]

Penjelasan dari Fisher memberikan pendasaran ilmiah mengapa manusia tergila-gila dengan cinta, mengapa manusia rela mati demi mempertahankan cinta? Ternyata asupan kimia yang bernama dopamine yang menyebabkan kita dapat menanggung penderitaan dan intrikasi dari cinta. Dopamine tidak saja memberikan kenikmatan, tetapi juga merangsang dan memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Fisher memberikan penjelasan bagaimana otak manusia berevolusi, dan bagaimana kita telah terhabituasi menggunakan otak yang berurusan dengan gairah ini. Bukankah manusia makhluk yang bebas? Sehingga sesungguhnya ia bisa mengkontrol aktivitas cintanya? Tetapi mengapa ia selalu jatuh pada cinta yang sarat dengan konflik dan kesusahan?  Hal ini dapat dijawab dengan pengaruh dari dopamine tersebut, “…dopamine can produce feelings of ecstasy, as well as focused attention, enormous energy and intense motivation to win a reward.”[11] Di dalam pengertian ini dopamine mengandung zat kimia yang ekuivalen dengan amphetamine atau kokain. Sehingga selain kimia ini mendorong kemampuan fokus dan obsesi seseorang, tetapi juga sangat adiktif.

Melalui habituasi kita meyakini bahwa cinta harus penuh dengan siksa, dilema dan pengorbanan. Ini adalah simbol-simbol kemurnian dari cinta, seperti yang diutarakan oleh Aeschylus, “He who learns must suffer. And even in our sleep, pain that cannot forget falls drop by drop upon the heart, and in our own despair, against our will, comes wisdom to us by the awful grace of God.” Selepas mengalami tragedi di dalam cinta kita menuai kebijaksanaan, kesengsaraan tidak sekedar fase di dalam percintaan, tetapi justru menjadi tanda terhadap komitmen atau loyalitas seseorang. Kerelaan kita untuk menanggung kesengsaraan demi seseorang menunjukan integritas kita. Aktivitas mencintai menjadi suatu momen bagi seseorang untuk mengeksplorasi emosi-emosinya, entah itu senang, marah, berharap, kecewa maupun berduka. Bisakah manusia membangun cinta yang diidam-idamkan Fromm dan Russell, cinta yang ‘standing in’ dan cinta yang bersih dari mitos?

Cinta, Tubuh dan Kenikmatan

Ketika cinta bermetamorfosis menjadi relasi seksual, dua reaksi telah kita pahami dari uraian di subbab sebelumnya. Pertama tubuh mengkorupsi kemurnian cinta, bila kita mengambil posisi argumen seorang Platonian, tetapi dari segi Fromm, relasi tubuh adalah tahap normatif dalam hubungan percintaan manusia. Begitu juga menurut Fisher yang selalu mengutip Darwin, bahwa relasi seksual adalah drive utama manusia, bahwa gairah seksualitas dan nantinya berreproduksi telah tertanam di dalam otak. Satu lagi argumen tentang cinta dan tubuh dapat dibahas dalam pembahasan ini adalah tentang tubuh dan seni erotika. Vatsyayana, dalam karyanya Kama Sutra menjelaskan bagaimana indah proses keintiman yang terjadi diantara sepasang manusia. Mengapa Kama Sutra disanjung sebagai pedoman penting dalam mencapai kebahagiaan ?

Vatsyayana meyakini bahwa proses keintiman mencitrakan eksistensi manusia yang tinggi. Ia  memahami bahwa proses reproduksi dari manusia bukanlah suatu kegiatan yang mekanistik semata, tetapi proses penyatuan tersebut bersifat substansial dan estetis. Disinilah letak spiritualisme Kama Sutra, pemahaman bahwa seks bukanlah habituasi monoton dari manusia, tetapi merupakan suatu proses seni yang alamiah dan agung. Bagian filosofis dari Kama Sutra terletak di bagian pengantar atau Bab kedua. Pada bagian ini Vatsyayana mengutip Veda, yaitu dalam hubungannya dengan Catur Purusarthas. Catur Purusarthas, atau Empat Tujuan Hidup merupakan pandangan yang mengidealkan tahapan hidup yang seimbang. Catur Purusarthas terdiri dari pertama, Dharma atau kebaikan, kedua adalah Artha atau kesejahteraan materiil, ketiga adalah Kama, yaitu cinta dan kepuasan indrawiah dan yang terakhir adalah Moksha, atau pembebasan diri menuju Tuhan. Vatsyayana menuliskan, “Dharma lebih baik dari Artha, sedangkan Artha lebih baik dari Kama.”(Kama Sutra I.2.14) Melalui statemen singkat ini Vatsyayana menekankan bahwa kebaikan dan kebijaksanaan adalah pencapaian yang tertinggi apabila dibandingkan dengan kekayaan dan cinta. Kemudian apakah substansinya aktivitas Kama atau cinta, apabila tujuan utama dari manusia adalah Dharma atau kebaikan? Vatsyayana berargumentasi secara baik, dalam realitasnya manusia telah diberikan kemampuan dan keistimewaan untuk merasakan kenikmatan dan mengkontemplasikan kenikmatan, “Seksualitas adalah esensial dalam keberlangsungan hidup manusia”(Kama Sutra II.37).

Dalam pengertian Vatsyayana yang kemudian diadopsi oleh Michel Foucault dalam teori Ars Erotica. Guna tubuh adalah untuk mencapai kenikmatan. Vatsyayana menegaskan bahwa cinta adalah kenikmatan. Bahkan simbol lingam-yoni menunjukan bahwa proses keintiman sepasang manusia merupakan bentuk tertinggi dari cinta. Kepuasan itu sederhana, transendental dan indah.

Penutup
Tiga subbab yang telah diuraikan membahas persoalan cinta dari pendekatan yang berbeda-beda. Tetapi satu persamaan yang dapat digarisbawahi, bahwa cinta adalah penyebab transformasi. Baik transformasi ala Platonian yang ingin lepas dari penjara tubuh dan mencapai Heavenly Aphrodite, atau tranformasi biologis ala Darwinian dan Fisher yang menunjukan betapa menariknya aktifitas otak manusia ketika ia tengah jatuh cinta. Sedangkan bagi Vatsyayana, transformasi relasi tubuh dipandang sebagai tahap luhur dari cinta. Bahwa pencapaian keintiman seksual adalah forma tertinggi dari cinta. Cinta adalah sumber yang memungkinkan transformasi-transformasi ini. Bila kembali pada kutipan Empedocles di awal makalah ini, ia menjelaskan dengan sangat indah, bagaimana secara kosmogonik, alam raya ini mampu bersatu dan membentuk suatu tatanan yang selaras dikarenakan ada perekatnya, yaitu cinta.

Daftar Pustaka
M.Cooper, John (ed), Plato Complete Works, Hackket, USA, 1997
Fairbanks, Arthur (ed), Empedocles Fragments and Commentary, London, 1898
Fisher, Helen, Anatomy of Love, Ballantine Books, USA, 1994
Kierkegaard, Soren, Works of Love, Harper Torchbook, New York, USA 1964.
Danielou, Alain (ed), The Complete Kama Sutra, Park Street Press, USA, 1992
Fromm, Erich, The Art of Living, Perennial Classic, New York, 2000

[1] Empedocles Fragments and Commentary Arthur Fairbanks, ed. and trans.  The First Philosophers of Greece (London: K. Paul, Trench, Trubner, 1898), 157-234.
[2] .lih Symposium hlm. 463
[3] Ibid. hlm 466
[4] Ibid. hlm 470
[5] Ibid. hlm 474
[6] Ibid.
[7] Ibid. hlm 480
[8] .lih Erich Fromm “The Art of Living”, hlm. 21, Perennial Classic, New York, 2000
[9] Ibid. hlm. 93
[10] .lih www.helenfisher.com, data dalam format PDF, lihat bagian Helen Fisher, “Lost Love : The Nature of Romantic Rejection.” hlm. 185
[11] Ibid. hlm. 185

diambil dari : http://philosophy.ui.ac.id/?p=806 , diakses pada pukul 09:00 WIB

AKU DALAM PERTARUNGAN

 #AKU KATA dalam KALIMAT
 Aku adalah kata tunggal,asli dan sederhana ...
Aku yang berdiri sendiri hanya kata dasar tanpa apa-apa dalam suatu tempat tertentu dimanapun..
aku perlu eksistensi kata lain untuk menjadi satu kesatuan berupa kalimat..
untuk melukiskan esensi dan realitas bukan menunjukan...
aku hanya akan menjadi "aku" ketika diikuti banyak kata selain aku...
aku adalah ketiadaan dalam "Ada"
dan ketiadaan akan menjadi Ada dengan datangnya ketiadaan lain..
Aku yang mengkalimat adalah aku yang ada karena adanya aku-aku lain.


 #LUPA AKU
Saat semuanya menjadi kabur,redup bahkan gelap dimana-mana..
hal-hal partikular menjadi acuan atas semua pemenuhan..
Langit-langit bukan lagi atap untuk mencari perlindungan...
Bumi bukan lagi rumah untuk menemukan harmoni dalam garis-garis penetapan
absurd menyelimuti semuanya
keindahan katanya abstrakisasi dari keseluruhan obyek
relativisme menjadi akhir kesepakatan
taman,tak lagi ada burung diatas bunga...
Burung berhasil memproduksi madu sendiri
semuanya dalam kesendiriannya...
Tanpa kenal mengenal dan tebar senyum
kini wajah berjalan dengan bengis dan duduk pesimis
semuanya tanpa pencarian, enggan mencari tentang siapa diri,..
Mengenal diri,tradisi kuno zaman sebelum masehi
dan perlu ditinggalkan katanya
ketidakteraturan adalah musibah terbesar
  identitas sekedar simbol yang dipaksakan....


Oleh : Hamdan Wijaya