Selasa, 29 Mei 2012
Solidaritas Di Perantauan (SOLOPOS)
Solidaritas Di Perantauan
Selasa, 29/5/2012 | Adib Muttaqin Asfar/JIBI/SOLOPOS | Dilihat: 363 Kali
Share10
SHARE: Facebook | Twitter | Google | PRINT
BERTEMU-Anggota Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Surakarta saat melakukan pertemuan di kampus UMS, beberapa waktu lalu. (FOTO/Istimewa)
Setiap Juni hingga Agustus, kampus-kampus selalu sibuk dengan agenda tahunan mereka, menyambut mahasiswa baru. Bukan hanya pengelola kampus, tapi juga para mahasiswanya. Sebagian sibuk menjadi panitia, sebagian lagi mencari anggota dan ada pula yang menawarkan kos, penginapan dan sebagainya.
Tak kalah dengan organisasi mahasiswa lainnya, komunitas-komunitas mahasiswa daerah juga melakukan hal yang sama. Setiap tahun saat musim penerimaan mahasiswa baru, mereka bergerilya mencari para mahasiswa baru yang berasal dari daerah yang sama. Semuanya dilakukan demi solidaritas sesama mahasiswa satu kampung halaman.
“Kami bikin stan di kampus, lalu kami pasang banyak pamflet. Saya sendiri juga bilang pada takmir masjid kampus, kalau anak Brebes yang menginap di sini, tolong hubungi saya,” kata Ketua KPMDB Wilayah Solo, Wiria Sutrisna.
Sebagai bentuk solidaritas, Wiria dan rekan-rekannya memang terbuka dengan para mahasiswa Brebes yang belum punya tempat tinggal di Solo. Mereka mempersilakan mahasiswa baru asal Brebes yang ingin menginap di kos mereka. Bahkan terkadang niat baik itu dimanfaatkan orang lain yang juga butuh tempat menginap.
“Ceritanya dulu ada anak yang menginap di sini mengaku anak Brebes. Waktu saya pinjam KTP-nya untuk pendataan mahasiswa Brebes, ternyata dia bukan anak Brebes. Ya mau bagaimana lagi, enggak apa-apalah.”
Hal ini tidak membuat keinginan untuk berbagai mereka luntur. Merasa punya kewajiban moral, mereka selalu gencar melakukan pendataan mahasiswa baru. Selain di antara para mahasiswa, solidaritas itu juga telah terbangun bersama dengan para alumni yang kini menjadi orang penting di kampus.
Wiria mencatat sejumlah nama dosen di Fakultas Ekonomi, Agama Islam dan Geografi UMS berasal dari Brebes. “Mereka sering jadi pembicara diskusi kami, memberi motivasi dan jadi donatur.”
Solidaritas itu juga yang dibangun oleh para mahasiswa asal Lampung di Solo yang jumlahnya mencapai 400-an orang. Meskipun yang aktif di Ikamala Solo hanya 100-an orang, solidaritas itu tidak luntur. Saat ada yang sakit keras, maka anggota yang lain pun sama-sama menunggui. “Bahkan saat malam Mingguan, anak-anak lebih memilih di sini dari pada pacarnya,” canda Ketua Ikamala Solo, Wahyu Noviansyah.
Kedekatan ini dibangun dengan cara yang sederhana. Setiap kali mereka berkumpul bersama, para anggota diminta untuk memperkenalkan diri meskipun sudah pernah saling kenal. Hal inilah yang membuat anggota-anggota baru langsung bisa dikenal.
Solidaritas ini pun berhasil dibangun meskipun ada banyak keragaman di antara mahasiswa Lampung sendiri. Mereka terdiri dari berbagai etnis seperti Lampung, Jawa dan lain-lain. “Tapi selama asalnya sama-sama dari Lampung, kami tetap menyebutnya sebagai anak Lampung.”
Begitu juga dengan para mahasiswa Bangka yang tergabung di ISBA Solo. Posisi mereka yang benar-benar jauh dari kampung dan orang tua, mereka merasa wajib untuk membangun solidaritas. “Di perantauan itu kami sering merasa sendiri, butuh teman dan senang kalau ketemu teman satu daerah,” kata Ketua ISBA Solo, Dodi Kurniawan.
ISBA punya cara unik untuk melakukan pengakraban. Selain forum formal seperti malam pengakraban atau pengajian, mereka juga memanfaatkan momen libur lebaran sebagai sarana pendekatan. Menjelang Idul Fitri, mereka sengaja mudik bersama-sama. Tidak seperti mahasiswa lain yang naik pesawat, mereka lebih memilih jalur darat yang butuh waktu berhari-hari. “Kami pakai biaya sendiri-sendiri, tapi yang penting kita pulang bersama.”
Kamis, 10 Mei 2012
Mari Menghidupkan Organisasi
Sebuah organisasi akan selalu menggebuh-gebuh dijalani diawal. Namun pada saat pertengahan masa jabatan organisasi akan banyak terjadi kelesuan dan kebosanan terhadap organsiasi yang sedang dijalani. maka terdapat beberapa tips untuk menghidupkan lagi semangat dari organisasi sehingga membuat program kerja akan semakin mudah dilaksanakan. berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan semangat itu :
1. Kembali kepada visi dan misi awal dibentuknya organisasi tersebut
dengan berbagai program kerja yang telah dibuat menggebuh-gebuh terkadang melupakan visi dan misi awal dari organisasi. dan ini akan membentuk kembali pemikiran semua anggota mengenai urgensi dibentuknya organisasi ini.
2. refresh dengan membuat kegiatan senang bersama
selain dengan menyadari visi dan misi awal, kita dapat membuat program refreshing bersama walau hanya dengan pergi piknik di taman atau belakang perpus.bisa dengan membuat kuis bersama dan apapun itu yang menceriahkan suasana
3. renungan malam bersama
dan ini merupakan cara yang paling sensitive yang dapat dilakukan oleh organisasi. hal ini langsung dapat melepaskan segala macam gundah gulana yang biasa dialami oleh para anggota organisasi terahadap anggota lainnya
4. rujakan
cara ini merupakan cara yang efektif untuk meleburkan semua rasa para anggota menjadi satu, tawa sedih gelisah dan kecewa. semua akan terungkap dan terungkap. selain itu cara ini juga tidak terlalu mahal untuk mendapatkan kesegaran dalam anggota-anggoa organsasi.
Diterbitkan di: 30 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/how-to/careers/2244050-cara-menghidupkan-organisasi/#ixzz1joXWe06G
Tips Berpikir Kritis
Sembilan tips mengembangkan kompetensi berpikir kritis:
1. Berpikiran terbuka terhadap ide-ide baru.
2. Mengetahui bahwa setiap orang bisa memiliki pandangan yang berbeda.
3. Memisahkan berpikir dengan perasaan dan berpikir logis.
4. Menanyakan hal-hal yang anda anggap tidak masuk akal.
5. Menghindari kesalahan umum dalam pemberian alasan yang anda buat.
6. Jangan berargumen tentang sesuatu yang anda tidak mengerti.
7. Kembangkanlah kosakata yang tepat untuk penyampaian dan pengertian ide yang lebih baik
8. Mengetahui ketika anda memerlukan informasi lebih lanjut.
9. Mengetahui perbedaan antara kesimpulan yang dapat dan harus benar.
Sumber : http://gurupembaharu.com/home/?p=1331, 10 Mei 2012,07.32 WIB
Selasa, 08 Mei 2012
4 Etika Main Instagram
Tak butuh waktu lama bagi Instagram untuk menjaring jutaan pengguna baru. Laporan terakhir menyebutkan, perusahaan yang belum lama diakuisisi Facebook senilai USD 1 miliar ini baru saja mencatatkan milestone penggunanya di angka 50 juta.
Angka tersebut melesat tajam, mengingat pada akhir April 2012, jumlah penggunanya tercatat ‘baru’ 40 juta. Tentu, kehadirannya di Android turut menyumbangkan banyaknya pengguna anyar tersebut.
Nah, bagi para newbie yang baru saja terjun di aplikasi foto populer ini, ada baiknya menyimak etika berinstagram berikut yang dirangkum dari beberapa sumber. Etika ini patut dilakukan agar tidak mengganggu pengguna Instagram lainnya dan agar Anda menjadi IG-er yang layak untuk di-follow.
1. Jangan membanjiri photo feed
Di Instagram, kualitas lebih penting dibanding kuantitas. Jangan membanjiri feed dengan memposting foto-foto yang diambil dalam scene yang sama.
Pilih satu saja foto yang stand out dan gunakan filter yang cocok berikut caption yang menarik. Hindari flooding!
2. Jangan sering-sering ‘narsis’
Mengunggah foto diri sendiri masih bisa dimaklumi, asalkan hal ini dilakukan kadang-kadang alias jangan terlalu sering. Jika ingin mengupload foto self-snap, gunakan saja Facebook.
3. Buat percakapan
Meskipun Instagram basicnya adalah sebuah aplikasi foto, namun bukan berarti Anda menutup diri dari percakapan. Saat ada yang mengomentari foto, balas dengan respons yang positif. Follower Anda akan merasa diapresiasi dengan balasan yang Anda berikan.
4. Berkreasilah dengan kamera ponsel, bukan DSLR
Keberadaan Instagram sebenarnya lebih mengarah pada candid moment, komposisi dan balutan filter yang menawan untuk foto hasil bidikan ponsel.
Jadi, mengupload foto Instagram yang sebelumnya diambil dengan kamera ‘serius’ seperti DSLR, sangat tidak dianjurkan. Berkreasilah dengan kamera ponsel yang Anda miliki.
Sumber :: http://inet.detik.com/read/2012/05/04/124736/1909133/1279/4-etika-main-instagram?i991101105
Senin, 16 April 2012
Ajak Anggota Melakukan Kajian Agama
Ajak Anggota Melakukan Kajian Agama
Kamis, 28/10/2010 09:00 WIB - Rani Setianingrum (Harian Joglosemar)
Setiap orang yang tinggal jauh dari keluarganya pastinya akan merindukan suasana di kampung halamannya. Hal ini, dirasakan para perantau yang berasal dari Kabupaten Brebes yang kini berada di Solo untuk menimba ilmu. Untuk menghilangkan rasa kerinduan akan suasana kampung halaman mereka berkumpul dalam Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) wilayah Surakarta.
KPMDB merupakan wadah berkumpulnya mahasiswa Brebes yang ada di Solo. “KPMDB sudah ada sejak 19 Desember 1964, silam. Sejak didirikannya komunitas ini memang tidak berjalan lancar karena pada 2007 lalu sempat vakum. Kemudian, atas ide lain, mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan di Solo biar punya wadah untuk menaungi kami. Lagian para mantan pengurus yang dulu juga menyayangkan jika komunitas ini sampai bubar. Untuk itu, pada 2009 mulai diaktifkan kembali,” papar Muhammad Alfian Nurul Azmi, Ketua KPMDB wilayah Surakarta kepada Joglosemar ketika ditemui di UMS, Selasa (26/10).
Futsal
Komunitas ini memiliki 83 anggota terdiri mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Surakarta. “Anggota kami semuanya ada 83 mahasiswa yang berasal dari seluruh universitas di Solo. Kami memiliki banyak kegiatan seperti malam keakraban, olahraga, kajian dan ke depannya kami ingin mengadakan bakti sosial. Tapi untuk bakti sosial ini masih rencana karena untuk melaksanakannya terkendala waktu,” lanjut mahasiswa semester akhir jurusan Teknik Mesin dan Usuluddin.
KPMDB memiliki beberapa divisi seperti divisi minat bakat dan litbang. Baru-baru ini, KPMDB juga mengadakan malam keakraban yang bertujuan untuk memperkenalkan antara anggota baru dengan anggota lama. “Malam keakraban baru saja kami lakukan guna menyambut anggota baru dan juga merupakan agenda resmi kami,” lanjut M Fachrurrozi, Ketua divisi penelitian dan pengembangan.
Selain mengadakan malam keakraban, para anggota juga diajak untuk mengikuti kajian. “Kami juga mengajak para anggota untuk melakukan kajian mengenai agama dan juga daerah asal. Entah itu mengenai potensi daerah yang kami miliki ataupun lainnya,” lanjut mahasiswa FISIP UNS, tersebut.
Di bidang minat bakat, mereka juga mengadakan futsal bersama dan membentuk grup band. “Kami memiliki grup futsal. Tim ini dibentuk dua bulan lalu dan grup bandnya juga baru untuk namanya masih kami pikirkan,” papar Radityo Nugroho, ketua divisi minat bakat.
Untuk melakukan kegiatan tersebut, KPMDB mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Brebes. “Kami juga mendapatkan bantuan dari Pemda satu tahun sekali sebesar Rp 2 juta dan sisanya kami ambilkan dari kas yang tiap bulannya didapatkan dari para anggota sebesar Rp 5.000 per orangnya,” pungkas Alfian. (Rani Setianingrum)
Koran Harian Joglo Semar
Iklan Baris
.:: Tentang Joglosemar | Kontak Kami | Index Berita Hari Ini | Arsip Berita | Berita Populer | Surat Pembaca | SMS Warga | Sitemap | RSS ::.
Kamis, 28/10/2010 09:00 WIB - Rani Setianingrum (Harian Joglosemar)
Setiap orang yang tinggal jauh dari keluarganya pastinya akan merindukan suasana di kampung halamannya. Hal ini, dirasakan para perantau yang berasal dari Kabupaten Brebes yang kini berada di Solo untuk menimba ilmu. Untuk menghilangkan rasa kerinduan akan suasana kampung halaman mereka berkumpul dalam Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) wilayah Surakarta.
KPMDB merupakan wadah berkumpulnya mahasiswa Brebes yang ada di Solo. “KPMDB sudah ada sejak 19 Desember 1964, silam. Sejak didirikannya komunitas ini memang tidak berjalan lancar karena pada 2007 lalu sempat vakum. Kemudian, atas ide lain, mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan di Solo biar punya wadah untuk menaungi kami. Lagian para mantan pengurus yang dulu juga menyayangkan jika komunitas ini sampai bubar. Untuk itu, pada 2009 mulai diaktifkan kembali,” papar Muhammad Alfian Nurul Azmi, Ketua KPMDB wilayah Surakarta kepada Joglosemar ketika ditemui di UMS, Selasa (26/10).
Futsal
Komunitas ini memiliki 83 anggota terdiri mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Surakarta. “Anggota kami semuanya ada 83 mahasiswa yang berasal dari seluruh universitas di Solo. Kami memiliki banyak kegiatan seperti malam keakraban, olahraga, kajian dan ke depannya kami ingin mengadakan bakti sosial. Tapi untuk bakti sosial ini masih rencana karena untuk melaksanakannya terkendala waktu,” lanjut mahasiswa semester akhir jurusan Teknik Mesin dan Usuluddin.
KPMDB memiliki beberapa divisi seperti divisi minat bakat dan litbang. Baru-baru ini, KPMDB juga mengadakan malam keakraban yang bertujuan untuk memperkenalkan antara anggota baru dengan anggota lama. “Malam keakraban baru saja kami lakukan guna menyambut anggota baru dan juga merupakan agenda resmi kami,” lanjut M Fachrurrozi, Ketua divisi penelitian dan pengembangan.
Selain mengadakan malam keakraban, para anggota juga diajak untuk mengikuti kajian. “Kami juga mengajak para anggota untuk melakukan kajian mengenai agama dan juga daerah asal. Entah itu mengenai potensi daerah yang kami miliki ataupun lainnya,” lanjut mahasiswa FISIP UNS, tersebut.
Di bidang minat bakat, mereka juga mengadakan futsal bersama dan membentuk grup band. “Kami memiliki grup futsal. Tim ini dibentuk dua bulan lalu dan grup bandnya juga baru untuk namanya masih kami pikirkan,” papar Radityo Nugroho, ketua divisi minat bakat.
Untuk melakukan kegiatan tersebut, KPMDB mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Brebes. “Kami juga mendapatkan bantuan dari Pemda satu tahun sekali sebesar Rp 2 juta dan sisanya kami ambilkan dari kas yang tiap bulannya didapatkan dari para anggota sebesar Rp 5.000 per orangnya,” pungkas Alfian. (Rani Setianingrum)
Koran Harian Joglo Semar
Iklan Baris
.:: Tentang Joglosemar | Kontak Kami | Index Berita Hari Ini | Arsip Berita | Berita Populer | Surat Pembaca | SMS Warga | Sitemap | RSS ::.
