er

Minggu, 08 Desember 2013

KPMDB, UNTUK APA DAN SIAPA?

              Tulisan ini hadir dari kegelisahan saya ketika melihat kawan sesama mahasiswa yang berangkat dari satu daerah bahkan saya sendiri, kehilangan kepercayaan diri terhadap identitas komunalnya akibat politik perebutan kekuasaan dan kapitalisme dengan kejamnya memainkan produk untuk meraup keuntungan sebanyaknya dengan melupakan kesamaan derajat manusia dengan melakukan diskriminasi budaya lewat media layar kaca yaitu dengan membagia-bagi kelas mealui simbolisasi aksen dan bahasa, dan saya sebagai anggota dari organisasi mahasiswa yang berbasis kedaerahan mencoba menafsirkan secara kontektual untuk mencari makna terkait organisasi yang saya ikuti (KPMDB) kenapa berdiri selain untuk menjalin komunikasi dan tali silaturahmi serta gotong royong ditanah rantau, dan kalau kawan-kawan saya bilang.”KPMDB adalah rumah kedua”, karena rasa saling memiliki satu sama lain dan hubungan emosional yang telah terpatri satu sama lain mungkin ini tulisan terburuk sedunia karena ketidakjelasaan arah pembahasannya, tapi tidak ada salahnya,namanya juga belajar.hehe... 

            
              Dengan diciptakan sebagai makhluk individual dan sosial manusia selalu terdorong untuk hidup bermasyarakat atau berkelompok, sambil mengaktualisasikan dirinya untuk menemukan jati diri dan identitas masing – masing. Identitas adalah konsekuensi manusia sebagai makhluk individu dan sosial, individu adalah manusia yang memiliki kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia”perseorangan” atau “orang seorang” yang memiliki keunikan, setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dalam kontek sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain, ia melakukan sesuatu dipengaruhi faktor dari luar dirinya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan sosial (sosial need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan atau teman. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasari atas kesamaan ciri atau kepentingannya masing-masing.Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya system informasi satelit. Kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi memberi pengaruh luas dalam kehidupan sehari-hari, bahkan merombak sistem sosial. Globalisai ekonomi dan budaya berpengaruh pada penciptaan kultur homogen yang mengarah pada penyeragaman selera, konsumsi, gaya hidup, nilai, identitas, dan kepentingan individu. 
               Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa dan tanah air akan menghadapi kompetisi yang ketat didunia internasioanal dan dalam banyak hal yang menyangkut kebutuhan hidup manusia. Untuk itu, bangsa ini secara internal perlu mempersiapkan diri menjadi bangsa yang kokoh, kuat, dan beridentitas.
            Pertama, perlu diingat bahwa nusantara sangat luas secara geografis serta negara nusantara (baca, indonesia) adalah negara kepulauan sehingga untuk menjangkau satu daerah dengan daerah lainnya butuh energi yang tidak sedikit, sehingga asumsi awalnya adalah diharapkan dengan membentuk organisasi daerah masing-masing, kawan-kawan yang berasal dari daerah tersebut lebih paham dan dekat dalam segala hal apakah; bahasa, budaya dan yang tidak kalah penting kearifan-kearifan lokal yang sangat berharga. Kedua, bahwa pluralitas nusantara sangat tinggi; berbagai macam suku, bahasa, budaya, kesenian dll. Sehingga untuk lebih dekat dan lebih memahami kepentingan rakyat secara umum adalah mahasiswa/pelajar yang berasal dari daerah tersebut. Dengan demikian ekspektasi terbesar kita semua dengan adanya oprganisasi-organisasi kebangsaan atau kedaerahan adalah terpenuhinya kepentingan kelompok namun tidak melupakan tujuan yang lebih besar nan mulia yaitu kepentingan rakyat seantero nusantara. Kemudian yang terakhir, penulis teringat dengan kata salah pendiri organisasi kebangsaan sekar reokeon (organisasi kebangsaan sunda, jong sunda-jawa barat) yang kurang lebihnya penyampaikan bahwa Bukankah Dengan Terbentuknya Organisasi Kebangsaan akan Meringankan Beban Nusantara, Sebab Ada Perkumpulan Yang Intens Menyadrakan Masyarakatnya Masing-Masing[1]
            Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) adalah organisasi kepemudaan dan keterpelajaran (intelektual akademisi) yang berdiri 19 Desember 1964, hingga sekarang. Keberadaannya diniati sebagai wadah persatuan dan kesatuan mahasiswa-mahasiswa Brebes dalam berekspresi, berkreatifitas dan berpikir untuk pengembangan diri dan kemajuan Daerah. Kedudukan dan sifatnya independent dan non partisan.[2]
              KPMDB yang subyeknya adalah mahasiswa, dan melihat posisi strategis Mahasiswa yang diharapkan kehadirannya dalam masyarakat dan merupakan entitas manusia yang sedang menyiapkan dirinya untuk memasuki pertarungan kenyataan sebenarnya di kehidupan, yang dunianya sekarang hanya bergelut dengan berbagai buku-buku, ruang diskusi, teori-teori, dan rangkaian mimpi-mimpi untuk republik lebih baik dan di mitoskan sebagai kaum elit karena keintelektualan serta pengetahuannya mempunyai tugas untuk menjaga identitas budaya masyarakat yang luhur serta menyiapkan diri untuk mengisi ruang-ruang kosong dimasyarakat.
               Terlihat jelas sudah KPMDB yang didirikan untuk menyambung komunikasi tali silaturahmi adalah langkah yang perlu diapresiasi dan disikapi oleh mahasiswa daerah brebes, Kpmdb merupakan wadah mahasiswa untuk membendung keterpecahbelahan personal yang dalam bahasa psikologinya adalah split personality dalam diri mahasiswa terhadap identitas budaya dan kearifan lokal daerahnya yang merupakan kekayaan termahal republik ini, di era globalisasi dan dunia yang sudah dapat dilipat sekarang ini tanpa mengenal batas.
             KPMDB merupakan pencegahan awal untuk generasi penerus daerah atau bangsa supaya tidak buta dengan budaya dan keadaan daerah yang merupakanm kepentingan bersama untuk tetap menjaga identitas budaya, serta meningkatkan kepercayaan diri dengan persatuan dan ikatan yang terjalin merupakan hal yang perlu, mengingat globalisasi mengajak manusia untuk bebas sebebasnya, hal ini globalisasi menyebabkan masuknya produk-produk barat yang tidak sesuai dengan masyarakat kita yang menjunjung tinggi moralitas dan budaya-budaya timur yang bersahaja dan beradab dan mengajak dalam penyamarataan gaya, tata nilai serta kebutuhan atas nama efisiensi serta timbulnya diskriminasi bahasa yaitu ketika layar kaca menyajikan produk-produknya dengan membagi-bagi kelas melalui simbolisasi bahasa. 
              Ini diperburuk dengan kenyataan bahwa stereotip ini dieksploitasi melalui budaya-budaya populer (pop culture) melalui sinetron, film, musik, dan lain-lain. Kemudian melalui media ini, stereotip-srereotip ini diinternalisasi secara tidak sadar oleh penikmatnya. Jika anda penonton setia sinetron atau film Indonesia, anda mungkin seringkali menyaksikan penutur BI dengan aksen Bahasa Jawa yang medhok bisa diasosiasikan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, misalnya penjual jamu atau pembantu; Penutur BI dengan aksen Indonesia Timur (Ambon dan Papua) hanya pas berprofesi sebagai tukang pukul atau preman atau debt collector; Dalam sosiolinguistik, fenomena ini disebut dengan istilah linguistics profiling.[3]
          Melihat keadaan yang seperti itu memungkinkan berkurang atau bahkan hilangnya kepercayaan diri pada setiap warga atau mahasiwa daerah yang menempati posisi kelas terendah yang sedang di tanah rantau untuk menggunakan aksennya yang khas dalam berbicara dan berbahasa, inilah hal perlu segera disikapi dengan cepat, karena merupakan masalah urgent terkait identitas dan budaya daerah yang perlu dilestarikan. KPMDB hadir untuk mewadahi mahasiswa, karena mahasiwa merupakan unsur penting dan kaum elit dalam masyarakat dan mahasiwa yang mempunyai idealisme harus dijaga serta tingginya kepekaan sosial yang dimilikinya dan diharapkan spirit-spiritnya didapatkan dari kesadaran yang berasal dari kebutuhannya sebagai manusia dan mahasiswa yang berangkat dari daerah untuk menjaga kearifan dan budaya lokal dan menyadarkan masyarakat daerahnya.

Penulis adalah kader KPMDB Wilayah surakarta




[1]Shadikin.s.NAPAK TILAS SEJARAH ORGANISASI KEBANGSAAN. Ketua Umum IKAMI SUL-SEL Cab. Malang periode 2006-2008
[2]Facebook KPMDB Wilayah Surakarta 
[3]https://pustakapikiran.wordpress.com/2010/11/11/ada-dengan-logatmu/.2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Ada dengan logatmu?

        Maya dan Arif (keduanya pseudonyms) berkenalan melalui Facebook. Mereka tinggal di dua kota yang berbeda. Maya tinggal di kota J, sedangkan Arif di kota P. Setelah membaca profil masing-masing, saling melihat foto, dan beberapa kali chating via fasilitas yang tersedia pada situs jejaring sosial yang sedang ngetrend di Indonesia tersebut, mereka memutuskan untuk tukar-menukar nomor handphone. Namun hingga beberapa bulan setelah bertukar nomor HP, mereka hanya saling berkirim pesan pendek alias SMS-an. Belum ada yang mengambil inisiatif untuk berbicara langsung. Tiba pada suatu ketika, Arif merasa sudah saatnya hubungannya dengan Maya dibawa ke tahap berikutnya. Sembari mengumpulkan segenap keberanian yang dia miliki, Arif memutuskan menelepon langsung gadis dunia mayanya yang dia kagumi untuk mengungkapkan perasaannya. Dia sangat yakin usahanya akan berhasil. Keyakinannya bukanlah tanpa alasan. Dari hasil chating dan SMS-an selama ini, dia menyimpulkan bahwa Maya juga menyimpan kekaguman yang sama padanya, walaupun keduanya belum pernah bertemu. 

     Tapi sungguh di luar dugaan, kenyataan berkata lain. Saat Arif menelepon, ternyata Maya tidak seantusias biasanya. Sungguh berbeda dengan Maya di situs jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg atau Maya ketika ber-SMS ria. Bahkan beberapa hari setelah Arif menelepon, Maya sudah tidak lagi membalas SMS atau sapaan Arif saat dia online di Facebook. Lebih menyedihkan lagi, dua minggu berlalu sejak Arif menelepon, Maya memutuskan untuk menghapus nama Arif dari friend list-nya. Kisah di atas merupakan kisah nyata yang dialami Maya, yang kebetulan saya kenal secara pribadi. Cerita ini diceritakan langsung kepada saya oleh Maya di suatu kesempatan curhat. Saat saya tanyakan kenapa dia memutuskan hubungan dengan sahabat mayanya justru setelah Arif menelepon dan bukannya pada awal-awal perkenalan mereka, Maya dengan enteng menjawab, “Ngomongnya ngapak banget, persis Parto Patrio dan Mas Heri yang jaga warteg di depan kantor. Logatnya bikin ill feel.” 

       Cerita Maya dan Arif di atas semakin menguatkan fakta bahwa bahasa memiliki fungsi untuk merefleksikan identitas pemakainya. Seperti yang dikemukakan oleh para ahli sosiolinguistik, setiap penutur bahasa merupakan anggota masyarakat atau kelompok sosial. Oleh karena itu, dia harus berperilaku sama dengan anggota-anggota kelompok lainnya untuk menandai keanggotaannya. Seseorang digolongkan dalam kelompok masyarakat tertentu atau menganut ideologi tertentu bisa terlihat dari bahasa yang dia gunakan, khususnya aksen atau dalam istilah yang lebih membumi disebut logat. 

       Aksen sangat mungkin diasosiasikan dengan lokasi geografis (misalnya apakah penuturnya berasal dari Surabaya atau Medan) atau dihubungkan dengan kelompok sosial tertentu (misalnya apakah penuturnya berlatar belakang kelas atas atau kelas menengah). Saat menggunakan satu bahasa, hampir bisa dipastikan bahwa aksen memberikan informasi tentang bagaimana dan di mana penuturnya mempelajari bahasa yang dia gunakan. Dengan demikian, ini akan memberikan kesan kepada lawan bicara terkait identitas si penutur. Hal ini sejalan dengan hasil riset ekstensif Lippi-Green (1997), yang mengekspos bagaimana aksen terkait erat dengan pembentukan identitas (identity formation) si penutur suatu bahasa. Kita sebagai pendengar memang bisa mengungkapkan banyak hal hanya dari menyimak aksen lawan bicara kita, seperti latar belakang geografis, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Sayangnya, beberapa masalah bisa muncul karena aksen-aksen tertentu bisa saja disalah pahami dan dipandang negatif.

         Hal ini berlaku bagi penutur semua bahasa, tidak terkecuali penutur Bahasa Indonesia (BI). Banyak penutur BI yang ‘tak beraksen’ sering mengeneralisasi rekan-rekan penutur BI mereka yang beraksen dengan dengan karakter-karakter yang kadang kala bias. Tidak jarang pula, stereotip-stereotip ini pada derajat tertentu mendorong terjadinya diskriminasi. Ini diperburuk dengan kenyataan bahwa stereotip ini dieksploitasi melalui budaya-budaya populer (pop culture) melalui sinetron, film, musik, dan lain-lain. Kemudian melalui media ini, stereotip-srereotip ini diinternalisasi secara tidak sadar oleh penikmatnya. Jika anda penonton setia sinetron atau film Indonesia, anda mungkin seringkali menyaksikan penutur BI dengan aksen Bahasa Jawa yang medhok bisa diasosiasikan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, misalnya penjual jamu atau pembantu; Penutur BI dengan aksen Indonesia Timur (Ambon dan Papua) hanya pas berprofesi sebagai tukang pukul atau preman atau debt collector; Atau kasus Arif yang berlogat khas Banyumasan, yang oleh Maya diasosiasikan dengan penjaga warteg dan pentolan kelompok lawak terkemuka di Indonesia . Dalam sosiolinguistik, fenomena ini disebut dengan istilah linguistics profiling. 

       Setiap manusia biasanya memiliki insting yang kuat tentang bagaimana lawan bicara mereka berbicara. Kemudian insting ini digunakan sebagai basis justifikasi dan respon kepada lawan bicaranya yang bisa positif, bisa juga negatif. Lippi-Green (1997) menyatakan bahwa aksen kadangkala tidak selalu relevan dan memainkan peran dalam interaksi. Menurutnya, jika penutur berbicara ‘tanpa aksesn’, proses pembentukan stereotip terjadi di dalam pikiran si pendengar yang boleh jadi disebabkan oleh proses internalisasi secara tak sadar yang saya sebutkan di atas. Dalam sebuah riset yang dilakukan Kapoor (seperti yang dikutip dari Lippi-Green, 1997) diceritakan tentang seorang gadis keturunan India yang diminta untuk berbicara lebih pelan oleh pramuniaga sebuah supermarket seolah-seolah dia berbicara Bahasa Inggris dengan aksen India yang kental hanya karena penampilan fisiknya, padahal dia adalah native speaker Bahasa Inggris. Dalam cerita ini jelas bahwa aksen diabaikan oleh sang pramuniaga, disebabkan perhatiannya telah lebih dahulu teralihkan oleh asumsi dan miskonsepsi tentang penutur Bahasa Inggris keturunan India yang tertanam dalam pikirannya dan telah dimiliki jauh sebelum interaksi tersebut terjadi. 

      Ketika kita berbicara tentang aksen, satu pertanyaan yang harus diingat adalah “mungkinkah penutur suatu bahasa berbicara tanpa aksen?” Jawaban dari pertanyaan ini bisa bermacam-macam, tapi menurut hemat saya setiap penutur pasti memiliki aksen. Apalagi bahasa yang memiliki penutur relatif besar seperti BI. BI digunakan oleh penutur dengan aksen yang berbeda di lokasi geografis berbeda. Bahkan orang yang mengklaim atau merasa dirinya menggunakan bahasa ‘standar’ atau ‘tak berlogat’ tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa dia juga memiliki aksen.  
      
        Hanya saja yang membedakan adalah bentuk aksen yang berprestise tinggi yang dia gunakan telah mengalami proses -yang disebut oleh Schmidt (2002) dengan istilah- socially constructed normalization. Lebih lanjut, beberapa aksen yang saat ini digunakan oleh penutur dengan latar belakang sosial dan pendidikan yang tinggi diyakini berasal dari jenis bahasa rendahan (lower variety) yang telah mengalami perubahan baik secara sosial maupun historis. Dalam kasus BI, yang sering dikatakan BI ‘standar’ adalah yang digunakan oleh para penyiar-penyiar berita televisi dan radio atau BI dialek Jakarta (catatan: bukan dialek Betawi-pen). Sehingga penutur BI yang tidak memenuhi kriteria-kriteria standar BI ‘tak berlogat’ (pengucapan, intonasi, pilihan kata, tata kalimat, dan lain-lain), seringkali mengalami stigmatisasi. 
     
        Stigmatisasi ini seringkali menyebabkan penutur yang merasa dirinya menggunakan BI ‘berlogat’ merasa inferior, mengalami krisis kepercayaan terkait cara dia berbicara, dan lain sebagainya. Tak jarang ada pula dari mereka berusaha berbicara sebagaimana layaknya penutur BI ‘tak berlogat’, walaupun seringkali terdengar menggelikan dan kadang-kadang konyol.
      
          Sudah selayaknya kita tak mengasumsikan bahwa orang-orang yang memiliki latar belakang geografis yang sama lantas menjamin mereka berbicara dengan aksen yang sama pula. Kita juga tidak bisa menyamaratakan –misalnya- orang yang berasal dari Ambon berbicara dengan aksen BI yang sama, apalagi sampai menghakimi kalau mereka memiliki perilaku sosial budaya yang seragam pula. Misalnya perempuan dengan logat Jawa hanya bisa jadi penjual jamu; Laki-laki dengan aksen Madura hanya cocok berjualan sate; Orang dengan logat Batak paling banter jadi sopir Metromini; penutur BI dengan aksen Sasak hanya bisa kawin cerai dan lain sebagainya..Oleh karena itu, akan sangat bijak jika kita tidak melabeli satu jenis aksen lebih baik dari aksen lainnya untuk menghidari prasangka atau stereotip negatif terhadap aksen-aksen tertentu.

Diambil : pustakapikiran.wordpress.com

Selasa, 23 Oktober 2012

7 Hikmah dan Keutamaan Qurban ‘Idul Adha

Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya ‘Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan untuk berkurban tahun ini, ada baiknya Anda menyimak hikmah dan keutamaan qurban pada hari-hari tersebut:
1. Kebaikan dari setiap helai bulu hewan kurban
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]
2. Berkurban adalah ciri keislaman seseorang
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
3. Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]
4. Berkurban membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa
“Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]
5. Berkurban adalah ibadah yang paling utama
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat…”
6. Berkurban adalah sebagian dari syiar agama Islam
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Qur’an Surat Al Hajj : 34]
7. Mengenang ujian kecintaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]



Sumber: fimadani.com

Sabtu, 14 Juli 2012

BUKA BERSAMA


HIKMAH PUASA DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya : "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka" (QS. Ali Imran : 191) Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu : "Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (QS. Al Baqarah : 183) Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain : a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah) Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan. Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu : Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : "Berpuasalah maka kamu akan sehat" (HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim) Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : "Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa" (HR. Ibnu Majah) Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain : 1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu. 2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb. 3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan. 4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah. b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima. Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu : "Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi). Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul" (HR. Ibnu Majah) Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu : Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda : "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya. (HR. Bukhari) Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu : Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda : "Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk" (HR. Bukhari) Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin. Daftar Pustaka : - M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan - M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama - Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari - Al Qur’an